KOMSOS – Sabtu sore, 13 September 2025, halaman Paroki Yamas-Yeni tidak seperti biasanya. Langit yang teduh seakan menyaksikan sebuah kisah kecil yang begitu berarti. Di antara umat yang berkumpul, terdengar tawa anak-anak yang pecah penuh sukacita. Mereka berlarian, sebagian memeluk erat baju baru yang menempel di dada mereka. Di wajah polos itu, senyum merekah tulus, tanpa syarat, dan menyentuh siapa pun yang melihatnya.

Empat perempuan sederhana, Ibu Maryke, Ibu Hertin, Ibu Nelly, dan Ibu Win hadir sebagai relawan Keuskupan Agats, dan menjadi perpanjangan tangan mewakili para dermawan dari Jakarta. Perjalanan panjang yang mereka tempuh, menyeberangi jarak yang jauh, bukan untuk mencari nama atau penghargaan, melainkan untuk menebar kasih. Di dalam tas mereka bukan hanya pakaian, tetapi juga makanan tambahan berupa bubur kacang hijau dan bingkisan sederhana. Namun justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan kegembiraan begitu besar.

“Lihat, sa dapat baju baru!” seru seorang bocah. Ia memamerkan pakaian itu kepada temannya, seakan baru saja menerima harta paling berharga di dunia. Bagi relawan yang datang, pemandangan itu lebih berharga dari apa pun. Senyum anak-anak menjadi hadiah yang melampaui segala lelah perjalanan.

Ibu Maryke, dengan senyum tulus, berbisik, “Kami tidak membawa sesuatu yang besar, hanya hal kecil. Tapi ketika melihat wajah anak-anak bersinar bahagia, kami tahu bahwa kasih selalu menemukan jalannya.” ketika kita punya ketulusan untuk membantu sesama, pasti Tuhan punya cara untuk menolong” ucapnya lagi.

Sore itu pun berubah menjadi ruang persaudaraan. Bersama Pastor Paroki RD. Yanto Bria, mereka menghampiri para lansia. Satu per satu disapa, diberi telur dan kebutuhan harian. Ada genggaman tangan yang erat, ada pelukan hangat yang terasa tulus. Dalam diam, hati-hati yang rapuh mendapat kekuatan baru: bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Pastor Yanto melihat lebih jauh dari sekadar aksi berbagi. Dengan nada penuh syukur ia berkata, “Kehadiran mereka menjadi tanda bahwa Gereja sungguh satu tubuh. Dari Jakarta sampai Asmat, kita dipersatukan oleh perhatian dan kepedulian. Inilah yang menguatkan umat.”

Sesekali, salah seorang relawan menggendong bayi kecil, menimang dengan penuh kasih, bahkan menyuapkan makanan. Tidak ada jarak di antara mereka, hanya keakraban yang terjalin begitu alami. Bagi umat Yamas Yeni, perhatian itu laksana oase yang menyegarkan di tengah keseharian yang sederhana.

Maka jelaslah, kedatangan mereka bukan hanya tentang peresmian sebuah bangunan baru. Lebih dalam dari itu, yang “diperesmikan” adalah rasa persaudaraan yang nyata, hidup, dan hadir di tengah umat. Di tawa anak-anak, canda orang muda, dan syukur para orang tua, kasih menemukan jalannya untuk mengetuk setiap hati.

Dan ketika senja perlahan turun, meninggalkan halaman paroki yang mulai lengang, yang tersisa bukan sekadar cerita tentang pakaian atau bingkisan. Yang tinggal adalah kenangan tentang perjumpaan-perjumpaan yang menyalakan harapan, menyulam persaudaraan, dan menghadirkan wajah kasih Tuhan dalam senyum anak-anak Yamas Yeni.

