KOMSOS – Di SD YPPK Salib Suci Agats, suasana napak tilas pastoral berubah menjadi ruang permenungan. Di sana, Pastor Pius C. Manu, imam projo dari Keuskupan Agung Merauke, berdiri menyampaikan sepenggal kisah hidup yang sederhana,sarat makna.
Dengan gurauan yang hangat, ia berkata:
“Dulu, dalam pikiranku, hanya ada dua jenis manusia yang bisa menjadi guru: Orang Kei dan Orang Papua. Ketika saya melanjutkan ke SPG, memang benar, di sekitar saya hanya ada dua suku ini. Maka sebenarnya saya adalah Guru, Jadi Pastor hanya pelarian,” gurau Pastor.
Tawa seketika pecah, tetapi dalam gurauan itu ada jejak sejarah yang berat. Pastor Pius mengingatkan bahwa dahulu, Orang Kei datang ke tanah Papua dalam keadaan serba kosong yang ada hanya iman dan ketekunan. Belum ada peradaban baru.
“Mereka membuka sekolah-sekolah, menanam benih, dan hasilnya sungguh nyata. Pertanyaannya, mengapa benih yang ditabur oleh para penginjil tidak bertumbuh sebagaimana mestinya? Gereja yang sudah mencapai seratus tahun seharusnya mampu memperlihatkan buah-buah iman. Dari tanah Papua, seharusnya lahir banyak imam Papua.”
Kegelisahan itu, kata Pastor Pius, menjadi api yang membakar semangat hingga lahirlah Triduum hari ini. Sebuah upaya Gereja untuk menengok kembali jejak, mencari arah, dan menyalakan kembali bara panggilan di hati anak-anak Papua.
Ia menambahkan, perjalanan dari satu keuskupan ke keuskupan tidak sebatas ritual pastoral, tetapi sebuah perziarahan iman untuk menyapa, memberi semangat, dan menguatkan umat di tengah keraguan.
“Tentang Triduum, memang ada banyak konotasi. Apalagi bila dikaitkan dengan komunitas Orang Asli Papua. Tetapi itu wajar. Yang penting adalah roh yang kita bawa: roh pengharapan, roh keberanian.”
Triduum tetap mengedepankan semangat kekatolikan yang universal yang oleh Pastor menyebut Katolik yang bhineka, beragam. Maka dalam Triduum III, peserta diajak untuk merefleksi di bidang ekonomi umat dan pendidikan.
Pada momen tersebut, kenangan pribadinya akan dunia pendidikan kembali hadir, terlebih SD YPPK Agats.
“Saya punya banyak pengalaman dengan sekolah ini. Dulu, kami di kampung sering melihat sekolah ini hanya lewat kiriman tayangan video tanpa suara,” tutur Pastor.
Sekarang dunia pendidikan sudah mengalami banyak perubahan, Guru lebih banyak. Namun apa yang diungkapkan Kepala Sekolah tentang tiga masalah utama menjadi keprihatinan bersama, disisi lain guru kurang mendapat perhatian. Melihat situasi guru dimasa lalu, dengan keadaan guru sekarang maka ia menolak untuk mendengar lagu atau kalimat “Guru pahlawan tanpa tanda jasa.”
“Kalimat itu menyayat hati saya. Seolah-olah guru hanya dikenang dalam syair, tetapi tidak dihargai dalam hidup nyata. Padahal di tangan merekalah masa depan ditenun.”
Menutup sambutannya, Pastor Pius mengajak agar napak tilas ini tidak berhenti pada nostalgia, melainkan menjadi pijakan untuk melahirkan keputusan.
“Semua yang kita terima, kita dengar, dan kita resapi hari ini, akan kita rumuskan bersama. Itulah yang akan menjadi rekomendasi Triduum, sebagai arah langkah Gereja di tanah ini.”
Di balik kata-katanya, terselip kerinduan yang dalam: agar benih iman yang ditanam ratusan tahun lalu benar-benar bertumbuh, berakar, dan berbuah di tanah Papua.

